Mengapa Avanza Paling Dicari?

0
76

Menyimak desain mobil-mobil yang jadi follower Toyota Avanza, misalnya Suzuki Ertiga, Honda Mobilio, dan Chevrolet Spin, terlihat ada benang merah, yakni kesan akrab sebagai kendaraan keluarga. Termasuk follower terbarunya yang muncul di pameran GIIAS 2017 (10–20 Agustus), yakni Mitsubishi Expander dan Wuling Confero.

Kesan akrab dan akomodatif untuk keluarga sudah sejak awal diperagakan Avanza saat pertama hadir pada 2003. Pertanyaannya adalah bila konsep para follower itu mengikuti Avanza, mengapa penerimaan publik tidak sebaik penerimaan terhadap Avanza?

“Desain yang baik adalah yang simpel namun memiliki karakter yang jelas,” ujar Chris Bangle, kepala desainer BMW Group kurun 1992–2009. Bangle adalah salah satu desainer mobil yang paling menginspirasi di era modern ini.

Bagi Toyota, prinsip dasar yang dikemukakan Bangle itu ditambah dengan “nyawa”. Toyota Global di dalam situsnya mengatakan, “Kalau tidak ada hal yang menginspirasi suatu ide desain, tak peduli seberapa bagus nanti modelingnya, maka desain itu tidak akan bersinar.”

Apakah hal yang menginspirasi itu? Banyak hal, dan salah satunya adalah budaya setempat. Sejak Kijang dirilis pada tahun 1977 hingga Avanza diluncurkan perdana pada 2003, Toyota adalah kampiun riset budaya Indonesia terkait otomotif. Sukses Kijang dan Avanza merebut hati penduduk Nusantara menjadi bukti nyatanya.

IMG_5574

Salah satu ciri desain mobil yang cocok dengan budaya dan selera kebanyakan orang Indonesia adalah simpel dan tidak terlalu banyak memamerkan ornamen dan kurva. Setidaknya desain seperti ini bisa terlihat pada dua mobil paling sukses di Indonesia, yakni Kijang dan Avanza.

Selain itu, sekadar menyebut contoh lain, small sedan dengan penjualan terbanyak di dunia, yakni Toyota Corolla, juga berdesain simpel, tanpa banyak gimmick atau ornamen.

Mobil dengan desain yang terlalu banyak kurva, ornamen, dan gimmick akan terasa rumit di mata konsumen. Pada awalnya memang desain yang “njelimet” itu menarik minat, namun lama kelamaan terasa melelahkan dan membosankan.

Kembali ke pertanyaan mengapa para follower Avanza tidak ada yang diterima publik dengan lestari, salah satu jawabannya terletak pada gaya desain yang tidak akurat. “Nyawa” desain atau inspirasinya tidak berhasil memikat hati publik Indonesia secara langgeng dan mayoritas.

Tak bisa dihindari bahwa para follower itu adalah produk regional, yang risetnya dilakukan di berbagai negara dan budaya yang berbeda. Ada yang dikembangkan juga untuk pasar India, pasar Thailand, pasar Malaysia hingga Filipina.

IMG_5573

Avanza pun tak luput dari target regional bahkan global, karena diekspor ke berbagai wilayah seperti Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin. Namun, kualitas riset dan kualitas desain Toyota tetap mampu membuat Avanza terasa enak bagi orang Indonesia.

Bagaimana bila mobil yang mengaku ingin menyaingi Avanza namun didesain untuk pasar China kemudian dijual di Indonesia? Atau MPV pendatang baru yang disebut didesain di Indonesia namun terlihat kurang simpel?

Semua kembali kepada selera masing-masing konsumen. Namun sudah terbukti bahwa MPV berdesain rumit (baca: terlalu banyak ornamen dan kurva) tidak akan bertahan lama dalam memikat hati. Awalnya memang menarik, namun setelah itu selera publik akan kembali kepada simplicity dan kewajaran.

LEAVE A REPLY