Biasakan Baca Manual Book!

0
15
Manual Book atau buku panduan meski terkesan sepele namun penting untuk diketahui.

Sebagian besar pengguna kendaraan umumnya pernah mengalami masalah pada tunggangannya. Entah itu mogok, lampu utama mati, kendaraan tidak mau distarter, indikator ‘trouble‘ menyala, hingga tidak mau hidupnya kelengkapan aksesoris seperti: radio, wiper, lampu kabin, lampu sein, spidometer, dan lain sebagainya.

Biasanya kalau sudah ketemu masalah seperti ini para pengguna langsung dilanda panik. Ujung-ujungnya bingung apa yang harus dilakukan. Terlebih bagi para pengguna yang awam dengan dunia teknik. Belum lagi rasa was-was akan risiko aksi kriminal yang kerap menimpa pengguna kendaraan saat mengalami masalah.

Kebiasaan buruk para pemilik kendaraan di Indonesia adalah malasnya membaca buku panduan (manual book) yang diberikan oleh produsen kendaraan saat membeli kendaraan. Padahal hanya dengan membaca setidaknya kita bisa mendapatkan berbagai informasi penting yang akan sangat berguna ketika kendaraan bermasala

Dengan membaca manual book kita akan banyak mengetahui berbagai hal, mulai dari pelumas jenis apa yang harus digunakan, fungsi tombol-tombol, cara mengoperasikan fitur kendaraan, kapan harus mengganti oli dan komponen lain, posisi tuas pembuka kap mesin, serta letak dongkrak, perkakas dan segitiga pengaman, hingga berbagai hal yang tidak diperbolehkan dilakukan pada kendaraan.

Sebagai contoh kecil saja. Bagi pemilik kendaraan yang biasa menggunakan jasa supir tentu akan menemukan situasi dimana ia harus mengemudikan sendiri kendaraannya karena sang supir kebetulan berhalangan hadir. Saat hendak mengisi bahan bakar ia bingung di sebelah mana letak lubang pengisian tangki, sebelah kiri atau di kanan. Belum habis masalah itu tambah lagi masalah baru: Di mana tuas untuk membuka tutup tangki bahan bakar tersebut?

Ia pun sibuk mencari-cari saat berhenti di depan petugas pompa bahan bakar, sementara antrian makin panjang. Hal ini tentu akan membuang-buang waktu dan merugikan banyak orang. Belum lagi cemoohan orang yang membuat kita malu, “ooh mobil bagus-bagus ternyata cuma pinjeman tooh, buka tutup bensin aja ga tau.”

Masalah sepele

Kita lihat contoh lain. Seorang pria baru saja membeli sebuah SUV terbaru buatan Eropa dan hendak berkunjung ke keluarganya di Jawa Tengah. Di sekitar Kebumen tiba-tiba mobil SUV kebanggaannya tidak mau distart. Padahal aki dalam keadaan sangat bagus yang ditandai dengan nyala lampu yang terang dan suara klakson yang nyaring.

Karena panik dan tidak (mau) tau sama sekali soal kendaraan, ia menelepon call center sambil marah-marah pula karena merasa kecewa mobil barunya mogok. Apesnya lagi merek Eropa itu tidak memiliki banyak cabang di Jawa Tengah. Diler terdekat dengan lokasinya hanya ada di Semarang.

Akhirnya sambil menahan dongkol, sang pria terpaksa harus menunggu bantuan yang diperkirakan baru bisa tiba paling cepat sekitar 4 – 5 jam. Setelah mobil layanan tersebut datang lengkap dengan derek, peralatan, plus perangkat komputer diagnostik serta beberapa mekanik, ternyata masalahnya cuma satu: sekring engine putus.

Ia pun mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah hanya untuk hal yang sepele. Memang tidak ada kewajiban membayar karena mobilnya masih dalam garansi penuh. Dana itu hanya untuk kompensasi menebus rasa malu. Ia ‘cukup ikhlas’ memberikan itu ke mekanik resmi yang sudah jauh-jauh datang ke lokasinya. Yang ia bayangkan saat itu bagaimana jika yang datang adalah orang yang pura-pura menolong lalu memerasnya atau merampoknya.

Hal ini tentu tidak akan terjadi kalau kita mau meluangkan sedikit waktu untuk membaca manual book untuk mengetahui di mana posisi sekring, dan memeriksanya. Sepele memang, tapi akan sangat berarti saat masalah itu benar-benar terjadi. (Noer)

 

LEAVE A REPLY