Welcome to Bali, Von Dutch!

Von Dutch, merek apparel legendaris asal Amerika Serikat, yang kental aroma custom culture, resmi membuka flagship store pertamanya di sana. Tepatnya di sebelah Otokafe, Ubud, Bali, Minggu (29/9).

5
15
Interior Von Dutch di Ubud, Bali. (FOTO:ALUN)

SEPERTINYA tak ada yang tak kenal Ubud. Salah satu destinasi wisata di Pulau Dewata, yang dikenal hingga mancanegara. Ubud sendiri merupakan sebuah desa di Kabupaten Gianyar, yang terletak di tengah-tengah Pulau Bali. Daerah yang dikelilingi hutan hujan, dan terasering padi ini, juga dikenal sebagai pusat tarian, dan kerajinan tradisional.

Apa yang ada di Ubud menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Didasari hal itulah, Von Dutch, merek apparel legendaris asal Amerika Serikat, yang kental aroma custom culture, resmi membuka flagship store pertamanya di sana. Tepatnya di sebelah Otokafe, Ubud, Bali, Minggu (29/9).

“Ini flagship store pertama di Pulau Bali. Kenapa pilih Desa Ubud, karena di Bali tak hanya bicara Pantai. Dan Ubud menjadi salah satu lokasi wisata pilihan di luar pantai. Seperti kita ketahui, Von Dutch salah satunya menyasar segmen custom dan riding culture. Faktanya saat ini semakin banyak touring pengendara menyambangi Ubud,” ucap Koming, pemilik Von Dutch Ubud, Bali.

Mac Clinton Tjahjadi, Creative Manager PT Macroy Busana Sentosa (MBS), selaku pemegang merek Von Dutch di Indonesia mengatakan, Von Dutch memilih Bali sebagai lokasi flagship store pertama, tentu dengan sejumlah pertimbangan.

Antara lain, karena Bali memiliki nilai budaya yang kuat, dan merupakan salah tujuan pariwisata utama di Indonesia. “Dengan hadir di Bali, kami berharap Von Dutch menjadi semakin cepat dikenal semua kalangan, baik di lingkup nasional maupun internasional,” kata Mac.

Karena Von Dutch diawali dari dunia custom culture, yang menjadi akar, kemudian berkembang menjadi sebuah lifestyle di dunia fashion. Maka melalui pembukaan flagship store ini, diharapkan mempermudah pecinta custom culture mendapatkan produk Von Dutch. “Sekaligus mendukung perkembangan custom culture, khususnya di Pulau Bali dan Indonesia,” lanjutnya.

 

Boy Simanjuntak, Marketing Manager Von Dutch Indonesia ketika memberikan sambutan pada pembukaan store Von Dutch. (FOTO:ALUN)
Boy Simanjuntak, Marketing Manager Von Dutch Indonesia ketika memberikan sambutan pada pembukaan store Von Dutch. (FOTO:ALUN)

Custom culture

Beragam pilihan apparel ditawarkan brand Von Dutch yang terkenal dengan logo ‘Flying Eye’ nya ini. Mulai dari kaos, jaket, planel, sepatu, topi, tas, sarung tangan dan lainnya. Meski merek kelas dunia, namun diakui Boy Simanjuntak, Manager Marketing MBS, harga apparel Von Dutch tetap mampu bersaing.

“Harganya pun sesuai pasar Indonesia, mulai dari Rp300 ribuan hingga jutaan,” sergahnya. Bentuk dan desainnya pun berkualitas. Bahkan kebanyakan merupakan desain karya anak bangsa, tanpa menghilangkan karakter Von Dutch-nya sebagai brand dunia.

“Beberapa bentuk dan desain apparel Von Dutch yang dipasarkan, dibuat oleh putra-putri Indonesia. Tapi tetap sesuai izin dari Von Dutch di Amerika Serikat. Tak jarang, desain buatan kita dipakai sama Von Dutch negara lain, seperti Thailand misalnya. Tapi bagi kami itu tak masalah, selama mereka izin ke kita,” kata Boy.

Walaupun bernuansa custom culture yang kuat belakangan ini, biar bagaimanapun apparel Von Dutch tetap tak lepas dari fungsinya, sebagai fashion penunjang gaya hidup. Von Dutch tetap bisa dinikmati masyarakat luas, di luar genre custom culture.

“Ke depannya tentu apparel Von Dutch tetap bisa dimiliki oleh komunitas lain di luar custom culture. Misalnya komunitas skateboard, peselancar, hobiis sepeda, adventure, dan lainnya,” tegas Koming. (S-1)

5 COMMENTS

LEAVE A REPLY